Berbekal Setengah Isi Setengah
Kosong
Sebuah buku yang ditulis oleh
DR.Syafiq Reza Basalamah menarik hati saya untuk membukanya dan merenungi pesan
yang disampaikan penulisnya.
Sebuah pertanyaan mendasar ketika
kita melihat sebuah gelas. Katakan apa yang kamu lihat!
Ada yang berkata: looh,
setengah-nya kosong
Seorang yang lain berkata:
setengah-nya ada isinya
Termasuk yang manakah anda?
1 atau 2?
Dari pandangan terhadap sebuah
gelas itu, ternyata kita bisa melihat tingkat optimis/pesimisnya.
Orang yang cenderung mengatakan
gelas itu kosong, dia masih mengedepankan rasa pesimisnya. Masih berpikir bahwa
gelas itu kosongnya setengah.
Sebaliknya, orang yang cenderung
mengatakan gelas itu berisi setengah, dia lebih optimis melihat hidup. Mungkin,
dia masih punya harapan bahwa “gelas tersebut” bisa diisi lagi, karena sudah
terisi setengah.
Sederhana, bukan?
Sebuah gelas yang menentukan
apakah kita termasuk orang yang optimis atau tidak.
Optimis dalam hal apakah?
Semuanya. Termasuk manis-pahitnya
hidup ini.
Pahit. Misalnya, ketika kita
diberi sakit. Sakit gigi, contohnya. Makan tak enak, minum nggak boleh es,
gorengan dibatasi, bahkan kadang nyerinya tak tertahankan sampai ke syaraf
otak. Mengeluh? Mungkin iya.
Coba tengok teladan kita,
Rasulullah SAW ketika menjenguk Ummu ‘Ala yang sedang sakit.
Beliau SAW berkata, “Bergembiralah, wahai Ummu ‘Ala. Sesungguhnya Allah
akan menggugurkan dosa-dosa orang yang sakt dengan penyakitnya, sebagaimana api
menghilangkan kotoran-kotoran dari emas dan perak.” (HR. Abu Dawud)
Allah akan menggugurkan dosanya.
Sekarang, manusia mana yang merasa dirinya bersih dari dosa? Manusia mana yang
merasa bahwa dari setiap hari hidupnya
dia tidak punya kesalahan? Manusia selalu punya nafsu. Nafsu buruk bila dia iri, dengki, atau mungkin perasaan merasa
lebih tinggi dari orang lain. Tidakkah itu dosa?
Lihatlah dan rasakan kacamata
optimis itu. Bukan saja menggugurkan dosa, Allah menyiapkan pahala terbaik
lainnya.
“…Lalu Allah membuka hijab-Nya, maka tidak ada pemberian yang mereka
cintai melainkan melihat wajah Allah Azza Wa Jalla. Kemudian Rasul Shallallahu
‘alaihi wa sallam membaca ayat ini: ‘Bagi orang-orang yang berbuatbaik, ada
pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (meliht wajah Allah Swt)”
MasyaAllah ya.
Sekarang tengok hadits lain.
“Orang-orang yang hidup senang di dunia, (jarang terkena musibah),
kelak pada hari kiamat menginginkan kulitnya dipotong dengan gunting
ketika di dunia karena melihat betapa
besarnya pahala orang-orang yang tertimpa di dunia (HR.Baihaqi, shahih)
Subhanallah.
“kehidupan di muka bumi ini, ia
akan menjadi indah bila kita memandangnya dengan kacamata keindahan, menyikapi
segala peristiwa dengan hikmah dan bijaksana. Akan tetapi, kehidupan ini akan
menjadi kelam dan gelap gulita, bila kacamata yang dipakai untuk memandang
adalah kacamata retak, yang berdebu dan kusam.”-penulis buku