Selasa, 23 Agustus 2016

Berbekal Setengah Isi Setengah Kosong

Berbekal Setengah Isi Setengah Kosong
Sebuah buku yang ditulis oleh DR.Syafiq Reza Basalamah menarik hati saya untuk membukanya dan merenungi pesan yang disampaikan penulisnya.
Sebuah pertanyaan mendasar ketika kita melihat sebuah gelas. Katakan apa yang kamu lihat!
Ada yang berkata: looh, setengah-nya kosong
Seorang yang lain berkata: setengah-nya ada isinya

Termasuk yang manakah anda?
1 atau 2?
Dari pandangan terhadap sebuah gelas itu, ternyata kita bisa melihat tingkat optimis/pesimisnya.

Orang yang cenderung mengatakan gelas itu kosong, dia masih mengedepankan rasa pesimisnya. Masih berpikir bahwa gelas itu kosongnya setengah.
Sebaliknya, orang yang cenderung mengatakan gelas itu berisi setengah, dia lebih optimis melihat hidup. Mungkin, dia masih punya harapan bahwa “gelas tersebut” bisa diisi lagi, karena sudah terisi setengah.
Sederhana, bukan?
Sebuah gelas yang menentukan apakah kita termasuk orang yang optimis atau tidak.
Optimis dalam hal apakah?
Semuanya. Termasuk manis-pahitnya hidup ini.

Pahit. Misalnya, ketika kita diberi sakit. Sakit gigi, contohnya. Makan tak enak, minum nggak boleh es, gorengan dibatasi, bahkan kadang nyerinya tak tertahankan sampai ke syaraf otak. Mengeluh? Mungkin iya.
Coba tengok teladan kita, Rasulullah SAW ketika menjenguk Ummu ‘Ala yang sedang sakit.
Beliau SAW berkata, “Bergembiralah, wahai Ummu ‘Ala. Sesungguhnya Allah akan menggugurkan dosa-dosa orang yang sakt dengan penyakitnya, sebagaimana api menghilangkan kotoran-kotoran dari emas dan perak.” (HR. Abu Dawud)
Allah akan menggugurkan dosanya. Sekarang, manusia mana yang merasa dirinya bersih dari dosa? Manusia mana yang merasa  bahwa dari setiap hari hidupnya dia tidak punya kesalahan? Manusia selalu punya nafsu. Nafsu buruk bila  dia iri, dengki, atau mungkin perasaan merasa lebih tinggi dari orang lain. Tidakkah itu dosa?
Lihatlah dan rasakan kacamata optimis itu. Bukan saja menggugurkan dosa, Allah menyiapkan pahala terbaik lainnya.
“…Lalu Allah membuka hijab-Nya, maka tidak ada pemberian yang mereka cintai melainkan melihat wajah Allah Azza Wa Jalla. Kemudian Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat ini: ‘Bagi orang-orang yang berbuatbaik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (meliht wajah Allah Swt)”
MasyaAllah ya.
Sekarang tengok hadits lain.
“Orang-orang yang hidup senang di dunia, (jarang terkena musibah), kelak pada hari kiamat menginginkan kulitnya dipotong dengan gunting ketika  di dunia karena melihat betapa besarnya pahala orang-orang yang tertimpa di dunia (HR.Baihaqi, shahih)
Subhanallah.

“kehidupan di muka bumi ini, ia akan menjadi indah bila kita memandangnya dengan kacamata keindahan, menyikapi segala peristiwa dengan hikmah dan bijaksana. Akan tetapi, kehidupan ini akan menjadi kelam dan gelap gulita, bila kacamata yang dipakai untuk memandang adalah kacamata retak, yang berdebu dan kusam.”-penulis buku
Comments


EmoticonEmoticon